CultureFeature

CINTA LINTAS BUDAYA, EGO LINTAS BATAS

By: Novita Sari Yahya

Komik Satire tentang Pernikahan Antarbudaya

Saya sering geleng-geleng kepala melihat tingkah random pria Indonesia yang berseliweran di berita, media sosial, bahkan dalam perjalanan panjang sejarah bangsa.

Ada yang merasa dirinya paling tahu. Ada yang merasa paling berkuasa. Ada yang baru diberi sedikit ruang langsung bertingkah seperti pemilik kerajaan. Dan ada pula yang, entah bagaimana, mampu mengubah persoalan sederhana menjadi seminar panjang tentang “bagaimana seharusnya perempuan bersikap.”

Kadang saya berpikir: kehidupan Indonesia sebenarnya tidak membutuhkan penulis komedi. Kita sudah memproduksi bahan komedi sendiri setiap hari.

Lalu saya menemukan berbagai video dan konten kreator dari Amerika Serikat yang mengangkat kisah pernikahan antarbudaya. Salah satu tema yang cukup sering muncul adalah hubungan antara perempuan Filipina dan pria Amerika.

Awalnya saya hanya menontonnya untuk menikmati kelucuan.

Tetapi semakin banyak saya menonton, semakin menarik pula dinamika di balik kelucuan tersebut.

Bagaimana seorang pria Amerika berpikir tentang hubungan. Bagaimana ia berbicara dengan perempuan. Bagaimana ia mengekspresikan perasaan. Bagaimana ia mempertahankan harga diri. Dan yang paling menarik: bagaimana seorang pria yang dalam kehidupan sehari-hari tampak begitu percaya diri bisa berubah menjadi manusia yang sama sekali berbeda ketika sedang jatuh cinta.

Di situlah saya mulai melihat bahwa pernikahan antarbudaya bukan sekadar kisah cinta dua manusia.

Ia adalah pertemuan dua sistem operasi.

Bahasanya bisa berbeda. Cara makan berbeda. Cara menyatakan kasih sayang berbeda. Cara memperlakukan keluarga berbeda. Cara melihat uang berbeda. Cara membesarkan anak berbeda.

Bahkan cara bertengkar pun bisa berbeda.

Yang satu mengatakan, “Kita harus membicarakan masalah ini.”

Yang lain menjawab, “Tidak ada masalah.”

Padahal dari ekspresi wajahnya jelas sekali bahwa masalahnya bukan hanya ada—masalahnya sudah mempunyai cucu.

Di situlah komedi lahir.

Pernikahan mempertemukan dua manusia. Tetapi pernikahan antarbudaya sering kali mempertemukan dua keluarga, dua tradisi, dua kebiasaan, dua cara berpikir, dan kadang-kadang dua jenis ego yang sama-sama merasa dirinya paling normal.

Sebab bagi manusia, definisi “normal” biasanya sederhana:

Apa yang biasa saya lakukan adalah normal. Apa yang dilakukan orang lain adalah aneh.

Maka ketika seorang perempuan Filipina menikah dengan pria Amerika, atau perempuan Indonesia menikah dengan pria Jepang, atau pria Indonesia menikah dengan perempuan Eropa, yang masuk ke dalam rumah bukan hanya pasangan.

Ikut masuk pula budaya masing-masing.

Dan budaya, seperti halnya koper saat bepergian, tidak selalu mudah ditinggalkan di bandara.


Saya kemudian teringat pada budaya patriarki yang sering kita jumpai di Indonesia.

Ada bentuk patriarki yang serius. Ada pula yang begitu absurd sehingga kalau dituangkan ke dalam komik, pembaca mungkin mengira penulisnya sedang berlebihan.

Tetapi kemudian saya melihat gaya percaya diri sebagian pria Amerika.

Ada semacam aura cowboy.

Dada dibusungkan. Pendapat disampaikan dengan keyakinan penuh. Seolah-olah dunia ini adalah padang rumput luas dan dirinya baru saja turun dari kuda.

Saya tertawa.

Bukan karena satu budaya lebih buruk daripada budaya lainnya.

Justru sebaliknya.

Saya melihat bahwa setiap budaya mempunyai bentuk keunikannya sendiri.

Ada yang hadir dalam bentuk patriarki.

Ada yang muncul sebagai machoisme.

Ada yang tampil sebagai cowboy supremacy.

Ada yang bersembunyi di balik kalimat, “I am the man of the house.”

Tetapi semuanya bisa mengalami transformasi ajaib ketika cinta datang.

Koboi yang tadinya merasa menjadi penguasa padang rumput tiba-tiba bisa menjadi pria paling patuh di dunia ketika istrinya berkata:

“Sayang, bisa tolong cuci piring?”

Dan tiba-tiba sang koboi menemukan makna baru tentang demokrasi.

“Yes, honey.”

Mungkin inilah salah satu hukum universal perkawinan:

Semakin besar ego sebelum menikah, semakin menarik proses negosiasinya setelah menikah.


Komik ini kemudian saya bayangkan bukan sebagai komik tentang orang Amerika, Filipina, Indonesia, atau bangsa tertentu.

Ia adalah komik tentang manusia.

Tentang manusia yang membawa egonya masuk ke dalam rumah, lalu menemukan bahwa di dalam rumah itu sudah ada ego milik orang lain.

Tentang dua orang yang sama-sama merasa dirinya benar.

Tentang suami yang berkata, “Di negara saya, ini biasa.”

Lalu istrinya menjawab,

“Di negara saya juga biasa.”

Akhirnya mereka sadar bahwa satu-satunya hal yang tidak biasa adalah mereka berdua menikah.

Dan karena sudah menikah, mereka harus menemukan cara untuk hidup bersama.

Di sinilah perbedaan budaya justru menjadi sumber humor sekaligus pembelajaran.

Perempuan Filipina mungkin membawa cara pandang tertentu tentang keluarga.

Pria Amerika membawa kebiasaan dan nilai yang berbeda.

Orang Indonesia membawa tradisinya sendiri.

Orang Jepang membawa konsep hubungan yang lain lagi.

Tidak ada manusia yang datang ke dalam perkawinan sebagai kertas kosong.

Kita datang membawa rumah masa kecil kita.

Membawa bahasa ibu.

Membawa kebiasaan makan.

Membawa cara orang tua kita bertengkar.

Membawa cara mereka menunjukkan kasih sayang.

Bahkan tanpa sadar, kita membawa pola hubungan yang kita lihat sejak kecil.

Kemudian kita bertemu seseorang dari budaya berbeda dan berharap semuanya akan berjalan mulus.

Tentu saja tidak.

Karena cinta mungkin universal.

Tetapi cara manusia memahami cinta ternyata tidak selalu universal.


Maka komik ini ingin bermain di wilayah yang sangat manusiawi itu.

Bukan untuk menghina.

Bukan untuk menghakimi.

Bukan pula untuk mengatakan bahwa budaya tertentu lebih baik daripada budaya lainnya.

Satire justru bekerja dengan cara menertawakan sesuatu yang terlalu serius.

Termasuk diri kita sendiri.

Pria Indonesia boleh ditertawakan.

Pria Amerika boleh ditertawakan.

Perempuan Filipina boleh ditertawakan.

Orang Jepang, orang Eropa, bahkan penulisnya sendiri juga boleh masuk dalam antrean.

Syaratnya sederhana:

Jangan hanya menertawakan orang lain. Bersiaplah ditertawakan juga.

Sebab mungkin itulah cara paling sehat memahami perbedaan.

Kita tidak selalu harus setuju dengan budaya orang lain.

Tetapi kita bisa mencoba memahami mengapa mereka melakukan sesuatu yang bagi kita terasa aneh.

Dan kalau setelah memahami pun masih terasa aneh?

Tidak apa-apa.

Tertawakan saja—dengan kasih sayang.


Pada akhirnya, pernikahan antarbudaya adalah laboratorium kecil tentang kehidupan manusia.

Di sana cinta diuji oleh bahasa.

Kesabaran diuji oleh kebiasaan.

Romantisme diuji oleh tagihan.

Dan ego diuji oleh pekerjaan rumah tangga.

Dua orang mungkin bertemu karena cinta.

Tetapi mereka bertahan karena belajar bernegosiasi.

Karena cinta tanpa kemampuan memahami perbedaan bisa berubah menjadi konflik.

Dan ego yang tidak mau berkompromi bisa membuat perbedaan kecil menjadi perang dunia.

Itulah sebabnya judul komik ini sederhana:

Cinta Lintas Budaya, Ego Lintas Batas.

Cinta ternyata tidak mengenal paspor.

Ia bisa terbang dari Manila ke Los Angeles, dari Jakarta ke Tokyo, atau dari Bandung ke mana saja.

Tetapi ego?

Ego selalu ikut dalam penerbangan.

Ia membawa koper sendiri.

Dan biasanya koper itu tidak pernah mau masuk bagasi.

Karena pada akhirnya, cinta memang bisa melintasi batas budaya.

Tetapi ego ternyata juga punya paspor.

Komik Satire tentang Pernikahan Antarbudaya

Saya sering geleng-geleng kepala melihat tingkah random pria Indonesia yang berseliweran di berita, media sosial, bahkan dalam perjalanan panjang sejarah bangsa.

Ada yang merasa dirinya paling tahu. Ada yang merasa paling berkuasa. Ada yang baru diberi sedikit ruang langsung bertingkah seperti pemilik kerajaan. Dan ada pula yang, entah bagaimana, mampu mengubah persoalan sederhana menjadi seminar panjang tentang “bagaimana seharusnya perempuan bersikap.”

Kadang saya berpikir: kehidupan Indonesia sebenarnya tidak membutuhkan penulis komedi. Kita sudah memproduksi bahan komedi sendiri setiap hari.

Lalu saya menemukan berbagai video dan konten kreator dari Amerika Serikat yang mengangkat kisah pernikahan antarbudaya. Salah satu tema yang cukup sering muncul adalah hubungan antara perempuan Filipina dan pria Amerika.

Awalnya saya hanya menontonnya untuk menikmati kelucuan.

Tetapi semakin banyak saya menonton, semakin menarik pula dinamika di balik kelucuan tersebut.

Bagaimana seorang pria Amerika berpikir tentang hubungan. Bagaimana ia berbicara dengan perempuan. Bagaimana ia mengekspresikan perasaan. Bagaimana ia mempertahankan harga diri. Dan yang paling menarik: bagaimana seorang pria yang dalam kehidupan sehari-hari tampak begitu percaya diri bisa berubah menjadi manusia yang sama sekali berbeda ketika sedang jatuh cinta.

Di situlah saya mulai melihat bahwa pernikahan antarbudaya bukan sekadar kisah cinta dua manusia.

Ia adalah pertemuan dua sistem operasi.

Bahasanya bisa berbeda. Cara makan berbeda. Cara menyatakan kasih sayang berbeda. Cara memperlakukan keluarga berbeda. Cara melihat uang berbeda. Cara membesarkan anak berbeda.

Bahkan cara bertengkar pun bisa berbeda.

Yang satu mengatakan, “Kita harus membicarakan masalah ini.”

Yang lain menjawab, “Tidak ada masalah.”

Padahal dari ekspresi wajahnya jelas sekali bahwa masalahnya bukan hanya ada—masalahnya sudah mempunyai cucu.

Di situlah komedi lahir.

Pernikahan mempertemukan dua manusia. Tetapi pernikahan antarbudaya sering kali mempertemukan dua keluarga, dua tradisi, dua kebiasaan, dua cara berpikir, dan kadang-kadang dua jenis ego yang sama-sama merasa dirinya paling normal.

Sebab bagi manusia, definisi “normal” biasanya sederhana:

Apa yang biasa saya lakukan adalah normal. Apa yang dilakukan orang lain adalah aneh.

Maka ketika seorang perempuan Filipina menikah dengan pria Amerika, atau perempuan Indonesia menikah dengan pria Jepang, atau pria Indonesia menikah dengan perempuan Eropa, yang masuk ke dalam rumah bukan hanya pasangan.

Ikut masuk pula budaya masing-masing.

Dan budaya, seperti halnya koper saat bepergian, tidak selalu mudah ditinggalkan di bandara.


Saya kemudian teringat pada budaya patriarki yang sering kita jumpai di Indonesia.

Ada bentuk patriarki yang serius. Ada pula yang begitu absurd sehingga kalau dituangkan ke dalam komik, pembaca mungkin mengira penulisnya sedang berlebihan.

Tetapi kemudian saya melihat gaya percaya diri sebagian pria Amerika.

Ada semacam aura cowboy.

Dada dibusungkan. Pendapat disampaikan dengan keyakinan penuh. Seolah-olah dunia ini adalah padang rumput luas dan dirinya baru saja turun dari kuda.

Saya tertawa.

Bukan karena satu budaya lebih buruk daripada budaya lainnya.

Justru sebaliknya.

Saya melihat bahwa setiap budaya mempunyai bentuk keunikannya sendiri.

Ada yang hadir dalam bentuk patriarki.

Ada yang muncul sebagai machoisme.

Ada yang tampil sebagai cowboy supremacy.

Ada yang bersembunyi di balik kalimat, “I am the man of the house.”

Tetapi semuanya bisa mengalami transformasi ajaib ketika cinta datang.

Koboi yang tadinya merasa menjadi penguasa padang rumput tiba-tiba bisa menjadi pria paling patuh di dunia ketika istrinya berkata:

“Sayang, bisa tolong cuci piring?”

Dan tiba-tiba sang koboi menemukan makna baru tentang demokrasi.

“Yes, honey.”

Mungkin inilah salah satu hukum universal perkawinan:

Semakin besar ego sebelum menikah, semakin menarik proses negosiasinya setelah menikah.


Komik ini kemudian saya bayangkan bukan sebagai komik tentang orang Amerika, Filipina, Indonesia, atau bangsa tertentu.

Ia adalah komik tentang manusia.

Tentang manusia yang membawa egonya masuk ke dalam rumah, lalu menemukan bahwa di dalam rumah itu sudah ada ego milik orang lain.

Tentang dua orang yang sama-sama merasa dirinya benar.

Tentang suami yang berkata, “Di negara saya, ini biasa.”

Lalu istrinya menjawab,

“Di negara saya juga biasa.”

Akhirnya mereka sadar bahwa satu-satunya hal yang tidak biasa adalah mereka berdua menikah.

Dan karena sudah menikah, mereka harus menemukan cara untuk hidup bersama.

Di sinilah perbedaan budaya justru menjadi sumber humor sekaligus pembelajaran.

Perempuan Filipina mungkin membawa cara pandang tertentu tentang keluarga.

Pria Amerika membawa kebiasaan dan nilai yang berbeda.

Orang Indonesia membawa tradisinya sendiri.

Orang Jepang membawa konsep hubungan yang lain lagi.

Tidak ada manusia yang datang ke dalam perkawinan sebagai kertas kosong.

Kita datang membawa rumah masa kecil kita.

Membawa bahasa ibu.

Membawa kebiasaan makan.

Membawa cara orang tua kita bertengkar.

Membawa cara mereka menunjukkan kasih sayang.

Bahkan tanpa sadar, kita membawa pola hubungan yang kita lihat sejak kecil.

Kemudian kita bertemu seseorang dari budaya berbeda dan berharap semuanya akan berjalan mulus.

Tentu saja tidak.

Karena cinta mungkin universal.

Tetapi cara manusia memahami cinta ternyata tidak selalu universal.


Maka komik ini ingin bermain di wilayah yang sangat manusiawi itu.

Bukan untuk menghina.

Bukan untuk menghakimi.

Bukan pula untuk mengatakan bahwa budaya tertentu lebih baik daripada budaya lainnya.

Satire justru bekerja dengan cara menertawakan sesuatu yang terlalu serius.

Termasuk diri kita sendiri.

Pria Indonesia boleh ditertawakan.

Pria Amerika boleh ditertawakan.

Perempuan Filipina boleh ditertawakan.

Orang Jepang, orang Eropa, bahkan penulisnya sendiri juga boleh masuk dalam antrean.

Syaratnya sederhana:

Jangan hanya menertawakan orang lain. Bersiaplah ditertawakan juga.

Sebab mungkin itulah cara paling sehat memahami perbedaan.

Kita tidak selalu harus setuju dengan budaya orang lain.

Tetapi kita bisa mencoba memahami mengapa mereka melakukan sesuatu yang bagi kita terasa aneh.

Dan kalau setelah memahami pun masih terasa aneh?

Tidak apa-apa.

Tertawakan saja—dengan kasih sayang.


Pada akhirnya, pernikahan antarbudaya adalah laboratorium kecil tentang kehidupan manusia.

Di sana cinta diuji oleh bahasa.

Kesabaran diuji oleh kebiasaan.

Romantisme diuji oleh tagihan.

Dan ego diuji oleh pekerjaan rumah tangga.

Dua orang mungkin bertemu karena cinta.

Tetapi mereka bertahan karena belajar bernegosiasi.

Karena cinta tanpa kemampuan memahami perbedaan bisa berubah menjadi konflik.

Dan ego yang tidak mau berkompromi bisa membuat perbedaan kecil menjadi perang dunia.

Itulah sebabnya judul komik ini sederhana:

Cinta Lintas Budaya, Ego Lintas Batas.

Cinta ternyata tidak mengenal paspor.

Ia bisa terbang dari Manila ke Los Angeles, dari Jakarta ke Tokyo, atau dari Bandung ke mana saja.

Tetapi ego?

Ego selalu ikut dalam penerbangan.

Ia membawa koper sendiri.

Dan biasanya koper itu tidak pernah mau masuk bagasi.

Karena pada akhirnya, cinta memang bisa melintasi batas budaya.

Tetapi ego ternyata juga punya paspor.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button