By Ali Syarief
Suatu hari saya bersama Ayako Emoto, seorang komedian Jepang yang dikenal karena berbagai petualangan uniknya—mulai dari berlari bersama komodo hingga bermain dengan orangutan—memasuki kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, tepatnya di Camp Leakey, Kalimantan Tengah.
Saat itu kami berjalan menyusuri jalur hutan menuju lokasi di mana beberapa orangutan sedang berada di atas pepohonan. Mereka tampak tenang. Namun tiba-tiba salah satu di antaranya mulai memotong ranting dan dedaunan, lalu melemparkannya ke arah rombongan kami yang berada di bawah.
Bukan hanya sekali. Pada kesempatan lain, seekor orangutan bahkan turun ke tanah dan mengejar kami. Untungnya, orangutan tidak dapat berlari secepat Ayako Emoto. Kami pun berhasil menghindar dari kejarannya.
Saya kemudian bertanya kepada pemandu, mengapa orangutan tersebut begitu agresif terhadap manusia.
Jawabannya membuat saya terdiam.
Ternyata orangutan itu pernah memasuki sebuah perkebunan kelapa sawit. Di sana ia diusir secara kasar menggunakan sebilah parang hingga salah satu tangannya terluka. Sejak saat itu, ia menunjukkan sikap bermusuhan setiap kali melihat manusia. Ia menyimpan ingatan tentang rasa sakit yang pernah diterimanya.
Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa orangutan bukan hanya makhluk yang memiliki kecerdasan tinggi, tetapi juga memiliki memori dan emosi. Mereka mampu mengingat perlakuan baik maupun perlakuan buruk yang diterimanya dari manusia.
Peristiwa lain yang tidak pernah saya lupakan terjadi ketika saya sedang membuat dokumentasi untuk stasiun televisi Jepang, NHK. Saat itu saya mendampingi seorang dokter hewan dari Tokyo, Dr. Sakusa, yang melakukan penelitian terhadap orangutan. Kami juga melakukan wawancara dengan ahli primata terkenal, Prof. Biruté Galdikas, yang telah puluhan tahun mengabdikan hidupnya untuk konservasi orangutan di Tanjung Puting.
Di tengah kegiatan itu, sepatu saya terlepas dan ternyata sedang dimainkan oleh seekor anak orangutan. Secara refleks saya mengambil kembali sepatu tersebut. Tiba-tiba induknya datang dan menampar betis saya dengan keras.
Saya terkejut, tetapi kemudian memahami alasan tindakannya.
Bagi sang induk, saya bukan pemilik sepatu. Saya adalah manusia yang sedang mengambil benda yang sedang dimainkan oleh anaknya. Ia hanya melakukan apa yang akan dilakukan setiap ibu di dunia: melindungi anaknya.
Kedua peristiwa tersebut terjadi pada era Kosasih, sang “Raja Orangutan” yang melegenda. Kosasih dikenal sebagai orangutan terbesar dan paling berpengaruh di kawasan Camp Leakey pada masanya. Tubuhnya sangat besar, karismatik, dan menjadi simbol kekuatan hutan Tanjung Puting.
Setelah Kosasih meninggal, peran dominan itu diwariskan kepada putranya, Tom. Dan kini, para pengunjung Tanjung Harapan akan berkenalan dengan generasi berikutnya, seekor pejantan besar bernama Roger.
Dari pengalaman-pengalaman tersebut, saya sampai pada sebuah kesimpulan sederhana.
Siapa manusia yang dibenci orangutan?
Bukan semua manusia.
Orangutan membenci manusia yang melukai mereka. Manusia yang merampas hutan mereka. Manusia yang membuat mereka takut, terluka, dan kehilangan rumah.
Namun kepada manusia yang datang dengan rasa hormat, tanpa kekerasan dan tanpa niat merusak, orangutan sering kali menunjukkan sisi lain dari dirinya: rasa ingin tahu, kecerdasan, bahkan kehangatan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Mungkin itulah pelajaran terbesar yang diberikan orangutan kepada kita.
Mereka tidak membenci manusia.
Mereka hanya mengingat perlakuan manusia terhadap mereka.
