CultureFeature

Puisi Lintas Bunyi: Ketika Jepang dan Batak Bertemu dalam Satu Rasa

By Ali Syarief

Globalisasi sering dibicarakan dalam angka—perdagangan, teknologi, migrasi. Namun ada bentuk globalisasi yang lebih halus, lebih manusiawi: perjumpaan bunyi, rasa, dan imajinasi lintas budaya. Sebaris frasa seperti “Miyoto kaino sora akete – Au di Siantar ho di Balige” mungkin terdengar ganjil bagi telinga linguistik murni. Tetapi justru di situlah keindahannya: ia adalah ekspresi spontan dari dunia yang tak lagi terkurung batas geografi bahasa.

Frasa Jepang sora akete (langit yang menyingsing) memanggil citra pagi, awal baru, harapan yang terbuka. Dalam tradisi Jepang, langit dan laut sering menjadi metafora ketenangan dan perjalanan batin. Sementara baris Batak Au di Siantar ho di Balige menghadirkan realitas konkret: dua kota, dua titik rindu, dua manusia yang terpisah jarak. Jika Jepang memberi langit, Batak memberi tanah. Jika Jepang memberi fajar, Batak memberi kampung halaman.

Perpaduan ini bukan sekadar permainan kata. Ia mencerminkan cara generasi hari ini merangkai identitas. Budaya tidak lagi diterima sebagai warisan tunggal, melainkan sebagai palet tempat seseorang bebas mencampur warna—selama rasa estetiknya hidup. Inilah wajah baru ekspresi kultural: hibrid, cair, namun tetap berakar.

Baris berikutnya, “Au mangallang tape ho lepe-lepe”, membawa suasana ke meja makan. Makanan adalah bahasa universal keakraban. Tape dan lepe-lepe bukan hanya kuliner, tetapi simbol keramahan Batak—bahwa cinta tidak selalu diucapkan, sering kali disuguhkan. Lalu penutup, “Au anak ni raja ho anak ni te”, mengangkat hubungan itu ke martabat: dua pribadi dengan harga diri, dua garis keturunan yang saling menghormati.

Jika dibaca sebagai puisi, ini adalah kisah cinta jarak jauh. Jika dibaca sebagai fenomena budaya, ini adalah potret generasi lintas batas yang menolak dikotakkan. Bahasa Jepang di sini bukan tanda imitasi budaya asing. Ia menjadi aksen, memberi warna kosmopolitan. Bahasa Batak bukan nostalgia semata, melainkan jangkar identitas. Keduanya bertemu bukan untuk saling menundukkan, tetapi saling melengkapi.

Dalam kajian cross-cultural, percampuran semacam ini disebut cultural bricolage — merakit makna dari potongan budaya berbeda untuk melahirkan ekspresi baru. Di era digital, bricolage bukan penyimpangan tradisi, melainkan evolusi wajar. Tradisi yang hidup selalu bersedia berdialog.

Menariknya, percampuran ini juga menciptakan ruang emosional baru. Pendengar Jepang mungkin menangkap nuansa puitis “langit menyingsing”, sementara pendengar Batak merasakan kehangatan rindu kampung. Dua audiens berbeda, satu resonansi rasa. Inilah kekuatan seni lintas budaya: ia membangun jembatan empati.

Lebih jauh, ekspresi semacam ini menantang cara kita mendefinisikan “kemurnian budaya”. Budaya tidak pernah murni; ia selalu hasil pertemuan. Sejarah Nusantara sendiri adalah kisah panjang persilangan India, Arab, Tiongkok, Eropa, dan lokal. Maka ketika hari ini seseorang menyandingkan Jepang dan Batak dalam satu bait, ia hanya melanjutkan tradisi lama dengan cara baru.

Pada akhirnya, “Miyoto kaino sora akete – Au di Siantar ho di Balige” bukan sekadar kalimat unik. Ia adalah simbol zaman: dunia yang makin terhubung, namun manusia tetap merindukan rumah; dunia yang kosmopolitan, namun hati tetap mencari akar. Langit boleh menyingsing dari laut Jepang, tetapi rindu tetap pulang ke Balige.

Dan di sanalah seni menemukan tugasnya: menjahit jarak, menyatukan bunyi, menyatukan rasa.


Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button